Presiden: jangan teriak harga mahal

Tangerang (ANTARA News) – Presiden Joko Widodo meminta agar tidak ada pihak yang berteriak harga barang di pasar mahal, padahal yang terjadi adalah sebaliknya.
   
“Jadi jangan teriak-teriak di pasar harga mahal, nanti bakul-bakul, pedagang-pedagang pasar bisa marah semua nanti. tidak ada yang beli nanti,” kata Presiden di Pasar Anyar, Tangerang, Bante, pada Minggu.
   
Presiden membeli sejumlah barang kebutuhan pokok di pasar tersebut didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.
   
Sebelumnya calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno mengklaim harga tempe di pasar di Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengatakan terjadi kenaikan harga-harga barang. Keluhan itu disampaikan juga oleh para pedagang.
   
“(Kalau disebut harga mahal), nanti pedagang pasar marah semua bisa. Harganya stabil, harganya tidak berubah, banyak yang turun, tapi ada 1-2 yang naik biasa dalam sebuah harga di pasar fluktuatif seperti itu biasa,” ungkap Presiden.
   
Ia mencontohkan harga daging yang sedikit agak naik, tapi harga telur per kilonya pun turun.
   
“Nanti kalau disebut harga barang di pasar mahal malah ibu-ibu tidak  ada yang datang ke pasar. Malah datang ke mall, datang ke supermarket, datang ke hypermarket, Jadi kalau ke pasar itu ya lihat fakta yang ada benar. Harga-harga sampaikan apa adanya,” tegas Presiden.
   
Presiden di Pasar Anyar mengunjungi kios pedagang cabai, jeruk lemon, petai, melinjo, daging, tahu, beras dan mengunjungi dua pedagang tempe.
   
“Tempe harganya tadi Rp5 ribu bisa dipotong jadi 15. Tadi saya beli semuanya. Beli petai, tempe, tahu, ikan, daging Rp120 ribu, melinjo, cabai Rp30 ribu, pas naik bisa Rp80 ribu, tapi tadi cabai Rp30 ribu,” ungkap Presiden.
   
Hal paling penting, menurut Presiden, adalah pasar harus rapi, tertata, tidak becek, tidak bau dan ada tempat parkir sehingga mereka bisa bersaing dengan supermarket.

Baca juga: Presiden Jokowi keliling Kota Tagerang
Baca juga: Presiden dorong ekspor produk otomotif

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2018