Meski Indonesia geram, Australia tetap akan tanda tangani perjanjian dagang

KONTAN.CO.ID – DW. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan perjanjian perdagangan bebas senilai miliaran dolar dengan Indonesia akan ditandatangani tahun ini, meski ada reaksi geram dari Indonesia terhadap langkah Canberra untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu kota Israel.

Pada hari Selasa (16/10) PM Australia Scott Morrison mengeluarkan pernyataan bahwa negaranya “terbuka” atas kemungkinan untuk memindahkan kedutaan Australia di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, meski tetap berkomitmen dengan solusi dua negara, terkait posisi Palestina.

Kesediaannya untuk membalikkan kebijakan luar negeri selama puluhan tahun dan mengikuti jejak Amerika Serikat telah menciptakan jarak antara Asutralia dengan tetangga Asia-nya yang memiliki kedekatan erat dengan Palestina.

Morrison, yang akan menjalani pemilu penting pada hari Sabtu untuk menentukan apakah pemerintahnya mempertahankan kursi mayoritas, mengatakan pemerintahnya yakin Indonesia akan menghormati komitmen terhadap kesepakatan senilai lebih dari 16 miliar Dolar Australia (Rp. 173 triliun).

“Sudah ada komunikasi langsung antara saya dan presiden (Indonesia) dan menteri luar negeri serta menteri perdagangan,” kata Morrison kepada wartawan di Canberra.

“Menteri Perdagangan Indonesia telah menjelaskannya dengan sangat jelas dalam informasi yang disampaikan pada publik bahwa ini bukan hal yang menjadi masalah bagi mereka,” katanya lebih lanjut.

Perjanjian kerjasama yang telah diproses hampir selama satu dekade itu menawarkan Australia sebuah kesempatan untuk meningkatkan ekspor pedesaan yang mendominasi perdagangan dua arah.

Indonesia merupakan importir  utama gandum dan daging sapiyang membeli komoditas pertanian Australia senilai lebih dari tiga miliar Dollar Australia pada tahun 2017, demikian menurut data pemerintah.

Peringatan dari petani

Fiona Simson, Presiden Federasi Petani Nasional Australia yang mewakili sektor pedesaan, memperingatkan Morrison pada hari Rabu (17/10) untuk melawan setiap langkah yang akan mengancam sektor ekspor.

Meski terancam akan membuat marah pemilih di pedesaan, namun perubahan kebijakan Morrison yang potensial dapat membantu pemerintahnya mempertahankan mayoritas parlemen satu kursi.

Para pemilih di distrik pemilihan Sydney, Wentworth, akan memutuskan Sabtu mendatang, siapa yang akan menggantikan mantan perdana menteri Australia, Malcolm Turnbull, yang mengundurkan diri setelah  digulingkan di partainya pada bulan Agustus lalu.

Dave Sharma, calon dari partai Liberal  dalam pemilu sela nanti ikut memperebutkan kursi yang ditinggalkan mantan PM Malcolm Turnbull tersebut.

Diduga pernyataan Morrison dilontarkan untuk memperoleh dukungan komunitas Yahudi bagi Dave Sharma, mantan duta besar Australia untuk Israel. Di distrik terkaya di Sydney, Wentworth mayoritas penduduknya adalah Yahudi. Angka sensus menunjukkan 12,5 persen penduduk di Wentworth adalah orang Yahudi,  lebih tinggi dari kawasan lain di Australia.

Jika Sharma kalah, maka pemerintahan Morisson akan kehilangan kekuatan di parlemen. Tapi apabila akhirnya Australia memutuskan memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem, maka negara itu akan menjadi negara ketiga di dunia yang menempatkan negaranya di kawasan sengketa setelah Amerika Serikat dan Guatemala.

Status Yerusalem adalah salah satu rintangan dalam kesepakatan damai antara Israel dan Palestina. Keputusan Amerika Serikat untuk merelokasi kedutaan besarnya telah menyebabkan bentrokan antara warga Palestina dengan pasukan Israel di perbatasan Gaza.

Sumber : DW.com
Editor: Sri Sayekti

Sumber : DW.com
Editor: Sri Sayekti

AUSTRALIA